
Gulat sering kali orang anggap sebagai olahraga keras, tapi sebenarnya penuh teknik dan strategi. Di Indonesia, gulat Indonesia berkembang pesat meski belum sepopuler sepak bola atau bulutangkis. Pegulat kita rajin sumbang medali di SEA Games, Asian Games, bahkan level dunia. Baru-baru ini, di SEA Games 2025 Thailand, Muhammad Aliansyah raih emas Greco-Roman 67 kg, tambah pundi emas kontingen Merah Putih. Olahraga ini tuntut kekuatan fisik, kelincahan, dan disiplin tinggi. Yuk, kita bahas sejarah, prestasi terkini, serta prospek gulat nasional. Siapa tahu, kamu tertarik coba latihan!
Mengenal Dua Aliran Utama Gulat

Pertama, kita perlu memahami dua jenis gulat yang berkembang secara global dan juga di Indonesia. Gulat Amatir atau Olympic Wrestling merupakan jenis yang dipertandingkan di Olimpiade. Olahraga ini mengutamakan teknik, strategi, dan aturan ketat. Terbagi dalam dua gaya, yaitu Freestyle (gaya bebas) dan Greco-Roman (yang melarang serangan di bawah pinggang).
Di sisi lain, ada Gulat Profesional atau Pro Wrestling, yang lebih dikenal masyarakat melalui tayangan televisi. Jenis ini merupakan pertunjukan atletik dengan skenario dan elemen dramatisasi. Meski membutuhkan kemampuan fisik luar biasa, fokus utamanya adalah hiburan. Kedua aliran ini berbeda, tetapi sama-sama memerlukan dedikasi tinggi dari atletnya.
Sejarah Perkembangan Gulat di Indonesia

Gulat masuk ke Indonesia sejak era kolonial Belanda sebelum Perang Dunia II. Saat itu, tentara Belanda perkenalkan sebagai hiburan pasar malam atau pesta kota besar. Namun, pendudukan Jepang 1941-1945 bikin popularitasnya menurun karena bela diri Jepang seperti judo dan sumo lebih dominan.
Setelah kemerdekaan, gulat bangkit lagi. Tahun 1960, Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) berdiri resmi pada 7 Februari. PGSI langsung kirim atlet ke kejuaraan dunia Yokohama 1961. Sejak itu, gulat jadi cabang tetap di PON, Asian Games, dan SEA Games.
Gaya Gulat yang Dipertandingkan
Di Indonesia, pegulat kompetisi di dua gaya utama: gaya bebas dan Greco-Roman. Gaya bebas izinkan serang kaki lawan, sementara Greco-Roman fokus bagian atas tubuh saja. Keduanya tuntut teknik banting, kuncian, dan pin sempurna.
Prestasi Terkini Pegulat Indonesia

Gulat Indonesia konsisten jadi lumbung medali di ajang regional. Di SEA Games 2023 Kamboja, tim putra sumbang empat emas, putri lima medali. Pegulat seperti Lulut dari Magetan raih emas bergengsi.
Puncaknya di SEA Games 2025 Thailand, Muhammad Aliansyah taklukkan pegulat Vietnam di final Greco-Roman 67 kg. Emas ini jadi salah satu dari dua tambahan hari itu, bantu Indonesia dekati target 80 emas.
Pegulat Berbakat yang Menginspirasi
Banyak pegulat Indonesia transisi ke MMA seperti Eko Roni Saputra, yang sukses di ONE Championship. Di gulat murni, nama seperti Mangamar Naibaho juluki “Singa Sumut” jadi legenda. Generasi baru terus muncul dari pelatnas PGSI.
Tantangan dan Masa Depan Gulat Nasional
Meski prestasi bagus, gulat Indonesia hadapi kendala fasilitas dan dana. Banyak atlet latihan di matras sederhana. Selain itu, popularitas masih kalah dengan cabang lain.
Namun, PGSI aktif bina atlet muda lewat pengcab di daerah. Target SEA Games 2025 tiga emas sudah tercapai lebih. Dengan dukungan pemerintah, gulat bisa bersaing di Olimpiade.

Cara Mulai Berlatih Gulat
Ingin coba? Cari klub PGSI terdekat. Latihan fokus kekuatan, teknik, dan endurance. Olahraga ini bagus bangun disiplin dan kepercayaan diri.
Gulat Indonesia bukti ketangguhan atlet kita. Dari sejarah panjang sampai prestasi terkini, cabang ini layak dapat perhatian lebih. Kamu pernah nonton pertandingan gulat langsung? Atau kenal pegulat daerahmu? Ceritakan di komentar bawah ini! Share artikel ke teman-teman olahraga biar semakin banyak yang dukung gulat nasional. Semangat untuk para pegulat Merah Putih!