
Pernahkah Anda membayangkan dua atlet bertubuh raksasa saling berhadapan di atas lingkaran tanah liat, hanya mengenakan cawat, lalu bertarung dalam hitungan detik? Itulah gulat sumo, olahraga nasional Jepang yang telah bertahan selama berabad-abad. Lebih dari sekadar adu fisik, sumo adalah perpaduan antara ritual kuno, filosofi hidup, dan tradisi Shinto yang masih lestari hingga kini.
Gulat sumo atau dalam bahasa Jepang disebut ozumo memiliki daya tarik tersendiri. Di balik tubuh besar para pegulat, tersimpan sejarah panjang dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Indonesia yang gemar dengan olahraga tradisional, mengenal sumo bisa membuka wawasan tentang kekayaan budaya Negeri Sakura.
Sejarah Panjang Gulat Sumo

Asal-usul gulat sumo dapat ditelusuri hingga periode Yayoi (sekitar 300 SM – 300 M) . Pada masa itu, sumo lahir sebagai ritual dalam agama Shinto untuk menghormati para dewa atau kami . Masyarakat Jepang kuno mempertunjukkan adu kekuatan sebagai bagian dari festival panen padi, memohon hasil bumi yang melimpah .
Menurut legenda, pegulat sumo pertama adalah Nomi no Sukune yang bertarung atas perintah Kaisar Suinin sekitar abad pertama Masehi . Catatan tertulis dalam Nihon Shoki menyebutkan bahwa pada tahun 642 M, seorang bangsawan mengadakan festival sumo untuk merayakan pembukaan kuil baru .
Memasuki periode Nara (abad ke-8), gulat sumo mulai melibatkan para samurai dalam pertarungan bernama tsuji-zumo. Saat itu aturannya masih longgar, sering berujung kematian, dan pemenangnya mendapat hadiah uang tunai . Ada pula kanjin-zumo yang digelar di kuil untuk menggalang dana pemeliharaan tempat ibadah .
Bentuk modern sumo mulai terbentuk pada periode Edo (1603-1868). Seorang mantan samurai, Ikazuchi Gondayu, menciptakan peraturan baku dan tempat pertandingan yang masih dipatuhi hingga saat ini . Sejak itulah gulat sumo berkembang menjadi olahraga profesional dan ditetapkan sebagai olahraga nasional Jepang .
Tradisi dan Ritual dalam Gulat Sumo

Apa yang membuat gulat sumo unik adalah serangkaian ritual panjang sebelum pertandingan yang hanya berlangsung beberapa detik. Semua tradisi ini berakar dari agama Shinto.
Upacara pembersihan menjadi bagian tak terpisahkan. Para pegulat melempar segenggam garam ke dalam dan sekitar arena untuk menyucikan area dari roh jahat . Garam sejak lama digunakan dalam kuil Shinto sebagai alat pemurnian .
Sebelum bertarung, pegulat juga mengangkat satu kaki lalu menghentakkannya keras ke tanah. Gerakan ini disebut shiko, berasal dari praktik kuno para pejuang untuk menakut-nakuti musuh . Dalam mitologi Shinto, dewi matahari Amaterasu melakukan hal serupa saat berhadapan dengan saudaranya .
Para pegulat menepukkan kedua tangan mereka, tradisi yang dilakukan pemeluk Shinto saat memulai dan mengakhiri doa . Mereka juga membilas mulut dan mencuci tangan dengan air suci sebelum memasuki arena, menyucikan diri sebelum “bertarung di hadapan dewa” .
Wasit atau gyoji yang memimpin pertandingan mengenakan juba menyerupai pakaian pendeta Shinto dan abdi istana Jepang abad pertengahan. Ia selalu membawa pisau belati sebagai simbol kesiapan melakukan seppuku jika membuat kesalahan dalam kepemimpinan .
Arena dan Aturan Pertandingan

Pertandingan gulat sumo berlangsung di atas arena bernama dohyō. Arena ini terbuat dari tanah liat padat yang dibentuk menjadi panggung persegi berukuran 5,7 meter setiap sisinya . Lingkaran pertandingan berdiameter 4,55 meter, dibatasi oleh karung beras yang disebut tawara yang sebagian tertanam dalam tanah .
Aturan mainnya sederhana: pegulat kalah jika menyentuh tanah dengan bagian tubuh selain telapak kaki, atau jika terdorong keluar lingkaran . Pertandingan bisa berakhir dalam hitungan detik, tetapi kadang berlangsung beberapa menit jika kedua lawan seimbang .
Ada beberapa teknik kemenangan (kimarite) yang diakui:
- Yori kiri: Mendorong lawan keluar lingkaran dengan memegang sabuk
- Oshidashi: Mendorong lawan keluar tanpa memegang sabuk
- Hatakikomi: Menampar lawan hingga jatuh ke tanah
- Tsuridashi: Mengangkat lawan keluar lingkaran
Pegulat yang menggunakan teknik terlarang (kinjite) otomatis kalah. Sabuk (mawashi) yang terlepas saat bertanding juga menyebabkan diskualifikasi .
Kehidupan Pegulat Sumo

Atlet gulat sumo disebut rikishi. Mereka tinggal dan berlatih di pusat pelatihan bernama heya yang dipimpin oleh mantan pegulat . Saat ini ada sekitar 54 heya dengan total 700 pegulat aktif di Jepang .
Menjadi pegulat sumo membutuhkan pengorbanan besar. Para pemula direkrut sejak usia belasan tahun. Mereka harus menjalani disiplin ketat, bangun pagi untuk latihan, membersihkan heya, dan melayani kebutuhan senior . Sistem senioritas sangat kaku, bahkan bisa dibilang kejam .
Peringkat pegulat sangat terinci, dari terbawah Jonokuchi, Jonidan, Sandanme, Makushita, Juryo, hingga puncak Makuuchi . Hanya pegulat di dua peringkat teratas (sekitori) yang menerima gaji bulanan. Pegulat peringkat bawah hanya mendapat uang saku sebagai imbalan kerja di pusat latihan .
Gaji tertinggi mencapai 2,82 juta yen atau sekitar 338 juta rupiah per bulan untuk pegulat tingkat yokozuna yang rutin menjuarai turnamen . Yokozuna adalah gelar tertinggi, diberikan kepada ozeki yang memenangkan dua turnamen berturut-turut .
Fakta Unik Seputar Gulat Sumo
Gulat sumo menyimpan banyak fakta menarik yang jarang diketahui:
- Bukan sekadar gemuk. Meski berbadan besar, pegulat sumo tidak memiliki lemak visceral berbahaya seperti penderita obesitas biasa. Tubuh mereka adalah massa otot dan lemak yang terdistribusi untuk kekuatan dan keseimbangan .
- Rambut topi khas. Jambul rumit yang dikenakan pegulat terinspirasi gaya rambut samurai abad pertengahan. Penata rambut khusus merawat rambut mereka karena dianggap sakral .
- Atap kuil berjalan. Arena dohyō memiliki atap gantung (tsuriyane) seberat 6 ton yang menyerupai atap kuil Shinto . Seluruh rangkaian arena dianggap suci layaknya kuil .
- Ritual pengusir setan. Di akhir musim dingin, pegulat sumo diundang ke rumah-rumah untuk mengusir roh jahat dalam upacara setsubun. Mereka melempar kacang sambil berteriak “Oni wa soto, fuku wa uchi” (Roh jahat keluar, keberuntungan masuk) .
Bukanlah Sekadar Olahraga

Gulat sumo bukanlah sekadar olahraga. Ia adalah cerminan budaya Jepang yang utuh, memadukan aspek spiritual, fisik, dan sosial dalam satu wadah. Dari ritual Shinto kuno hingga turnamen profesional modern, sumo tetap mempertahankan esensi tradisinya.
Bagi Anda yang tertarik menyaksikan langsung, turnamen sumo profesional (ōzumō) digelar beberapa kali setahun di berbagai kota Jepang. Pengalaman menyaksikan para raksasa bertarung diiringi sorak penonton yang histeris akan menjadi kenangan tak terlupakan. Atau mungkin suatu saat nanti, Indonesia juga bisa memiliki olahraga tradisional serupa yang mendunia seperti Pathol Sarang dari Rembang yang mirip dengan gulat sumo versi Nusantara